|
UNDER CONSTRUCTION
Jum‘at, 29 Mei 2009 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi masyarakat Melayu dunia. Hari itu, bertempat di Rumah Adat Melayu Ketapang, dilangsungkan pendeklarasian dan pelantikan pengurus Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS). LAMS ditubuhkan sebagai jembatan antara puak-puak Melayu sedunia. Selama ini, Melayu terkotak-kotak dalam administrasi pemerintahan dan kepentingan politik yang berbeda-beda, sehingga potensi Melayu yang sangat besar, baik yang berwujud benda maupun non-benda , belum terkelola dengan baik untuk kejayaan Melayu. Akibatnya, masyarakat Melayu baik secara ekonomi, politik, maupun budaya selalu terpuruk dan termarjinalkan.
Pendeklarasian LAMS, sebagaimana diungkapkan Sekretaris Jendral LAMS, H Morkes Effendi, S.Pd., MH. dalam sambutannya, bukan sekedar tempat berkumpulnya puak-puak Melayu sedunia, tetapi menjadi pendorong munculnya kesadaran untuk bersama-sama membangun dan mengembalikan kejayaan tamadun Melayu. Sejarah pembentukan LAMS berawal dari “Dialog Borneo” di Miri Serawak Malaysia, tahun 1986. Dialog tersebut melahirkan ide pembentukan Lembaga Adat Melayu (LAM). Selanjutnya, ide pembentukan Lembaga Adat Melayu kembali mengemuka dalam Simposium Dunia Melayu di Syah Alam Malaysia, 23-26 September 1996, yang dihadiri oleh para sejarawan, sastrawan, dan tokoh-tokoh dunia Melayu, seperti Prof. Dr. Iskandar Alisjahbana (Rektor ITB), H. Mawardi Rivai (Budayawan Kalimantan Barat), Prof. Dr. H. T. A. Ridwan (Budayawan Medan), H. Tengku Lukman Sinar Basarsyah II, SH. (Sejarawan Medan), Dr. Yusmar Yusuf (Ketua Pengembangan Bahasa dan Kebudayaan Riau), Drs. H. Ahmad Samin Siregar (Dekan Universitas Sumatra Utara), Louis Rajaonera (Penasehat PM Madagaskar), Dr. Cristian Ranaivoson (Dokter University Madagaskar), Al Haj Lt. Ak. Doray (Setia Usaha Sri Langka United Malay), Dr. Po Dharma (Ahli Sejarah Cham), Dr. Mohamed-Sheriff Jaldeen (Maboli Malay Association), Mboara Andrianarimanana (Majalah Feony Melina Madagaskar), TE. Sagara Amit (Sri Langka Malay Association), Dr. Hasan Madmara (Universiti Prinee Songkhla Pattani), Den Tohmeena (Penasehat Kementerian Pengangkutan Pattani), Tasneen Kalam (Setia Usaha Kehormatan Kebudayaan Melayu Afrika Selatan), Abraham Rohim (Jurutera Antarbangsa di California USA), M. Saheed Preena (Pemimpin Masyarakat Melayu Canada), H. Akli Laurie C.D (Presiden Islam Katanning Australia), H. Muhammad Nor Hassan <span style=""> </span>(Presiden Persatuan Melayu Perth Australia), Dr. Ba Trung Phu (Ketua Museum Sejarah Ho Chi Minh Vietnam), Othman Hassan (Pengarah Melayu Kampucea), dan Prof. Dr. Dato Tan Sri Ismail Hussein (Sekretariat Antar Bangsa Malaysia). |