|
Musyawarah Kerja LAMS dan Pengukuhan Pemuda LAMS
Sejak di deklarasikannya Lembaga Adat Melayu Serantau, 29 Mei 2009, di Rumah Melayu Ketapang, LAMS telah bertekad untuk menjadi perekat bagi seluruh puak Melayu serantau. Selain mengemban visi dan misi mengembangkan budaya, melestarikan tradisi serta jelajahi nusantara, LAMS juga ingin menjalin hubungan yang sinergis dengan semua etnis.

Guna mewujudkan cita-cita luhur tersebut, pada hari ini (Senin, 15/3) LAMS menggelar musyawarah kerja pertama, di Rumah Melayu, Pontianak. Tema dari musyawarah kerja LAMS adalah “ Merevitalisasi Budaya Adat Melayu Menuju Masa Depan yang Sejahtera”. Tema besar ini diangkat kepermukaan sebagai bentuk dari komitmen LAMS dalam mengangkat marwah Melayu yang berlandaskan iman dan taqwa.
Satu hal penting yang patut menjadi perhatian bersama, bahwa kendati LAMS berpedoman pada adat dan tradisi, bukan berarti LAMS alergi terhadap modernisasi. Sebaliknya, LAMS ingin tampil sebagai rantai pemersatu dalam kesetaraan hegemoni nilai-niai luhur demokrasi, nasionalis dan religius.
Disamping merumuskan strategi serta program kerja organisasi kedepan, dalam acara musyawarah kerja LAMS juga lakukan pelantikan Pemuda LAMS. Hadirnya organisasi Pemuda LAMS merupakan salah satu jawaban atas penguatan nilai budaya Melayu. Penguatan dalam komunitas Melayu menjadi hal yang sangat urgent ditengah pusaran globalisasi yang tidak jelas ujungnya. Melayu yang tersebar di penjuru Dunia harus bisa memberikan konstribusi positif terhadap kemaslahatan umat.
Sekretaris Jenderal LAMS, Dato’ Sri Petinggi Kyai Mangku Negeri H Morkes Effendi SPd, MH secara tegas mengatakan puak Melayu jangan terpecah belah. LAMS harus bisa member tauladan bagi masyarakat lain. Impirium yang kokoh hendaknya mampu menjadi pondasi yang kuat dalam menopang prinsip multikultur, membangun SDM yang berkualitas, serta berintegritas tinggi.
Problem yang ada menjadi sebuah tantangan, persoalan dinamika yang menimpa masyarakat Melayu secara politik dan ekonomi termarjinalkan. Kondisi komunitas Melayu yang mempunyai sejarah integritas baik dalam bidang politik, budaya, maupun ekonomi, wilayah-wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai pusat dan konsentrasi Melayu, secara perlahan diambil alih oleh pelaku politik, ekonomi dan budaya. Akibatnya, proses marjinalisasi dunia Melayu dalam 10 tahun terakhir semakin nyata. Dan LAMS ingin menjembatani persoalan tersebut. Untuk itu, perlu dikembangkan konsep-konsep dan aktivitas yang dapat membangun kembali jembatan dunia Melayu yang selama ini semakin rapuh. Para kaum cerdik pandai mari kita memikirkan masa depan generasi penerus.
Peranan penting dalam perjalanan di negeri ini, Melayu harus bersatu dan menjalin kerja sama, tidak hanya antar Melayu di Provinsi Kalbar, melainkan seluruh provinsi yang didominasi komunitas Melayu. Hal yang lebih penting lagi adalah menjalin kerja sama dengan masyarakat Melayu dari berbagai Negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Madagaskar, dan sejumlah negara lainnya yang ada Melayu-nya. Dengan cara demikian Melayu bisa menjadi kuat dan memiliki bargaining tinggi dalam dunia politik dan ekonomi. Dibentuknya LAMS merupakan upaya nyata untuk mewujudkan ambisi tersebut menjadi Jembatan Dunia Melayu. Untuk mewujudkan itu semua ada di tangan komunitas Melayu sendiri. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya (QS .......). (HUMAS LAMS)
|